
Tak jarang kita membeli barang yang sebenarnya tidak begitu penting. Sewaktu berlibur ke Inggris beberapa bulan lalu, saya rencananya ingin mencoba tradisi minum teh ala bangsawan. Saya pun membeli sekotak teh, dan satu set cangkir keramik lengkap dengan tekonya. Sampai sekarang, saya belum melakukannya sama sekali. Cangkir dan tekonya saja belum pernah dipakai.
Nafsu belanja saya sering muncul. Saya harus beli sesuatu, meskipun sebenarnya tidak. Kadang saya memang bisa menahan diri sebelum menggesek kartu kredit, tapi lebih seringnya sih bayar tanpa pikir panjang. Menyesalnya baru belakangan.
Saya sedang mendengarkan podcastnya Gaby Dunn , Bad With Money, dan langsung semangat ketika mengetahui ada solusi gampang untuk menangani masalah ini. “Kamu selalu ingin beli barang baru yang tidak kamu perlukan,” kata April Benson, psikolog dan pakar gangguan belanja kompulsif, kepada Dunn. Setiap ada klien yang konsultasi kepada Benson, dia akan menyarankan kliennya untuk menanyakan enam hal ini pada dirinya sendiri:
- Kenapa saya ada disini?
- Apa yang saya rasakan?
- Apakah saya memerlukan barang ini?
- Apa yang terjadi kalau saya menahan diri
- Bayar pakai apa?
- Bakal ditaruh dimana barangnya?
"Apabila mereka bisa menjawab pertanyaannya dengan mudah, sebaiknya secara tertulis, itu artinya mereka tidak punya dorongan untuk belanja kompulsif," terang Benson, yang menyarankan untuk menulis pertanyaannya di buku catatan yang biasa kamu bawa setiap hari. (Bisa juga menulis catatan di ponsel.)
<!DOCTYPE html>
<title>Title</title>
<style>body {width: 500px;}</style>
<script type="application/javascript">
function $init() {return true;}
</script>
<body>
<p checked class="title-title-title-title-title-title" id='title'>Title</p>
<!-- here goes the rest of the page -->
</body>