Penyebab Facebook Masih Jadi Andalan Tim Buzzer Kampanye Mengobrak-Abrik Peta Politik

Kerja-kerja tim klandestin yang menyemai narasi tandingan di dunia maya bisa berbuah aksi-aksi nyata di jalanan. Masalahnya, tak ada yang tahu siapa tim klandestin itu, dan apa pula kepentingan mereka?

Pihak Facebook mengungkapkan Rabu kemarin bahwa mereka menemukan banyak akun palsu di jejaringnya. Sebelum membuat pernyataan umum, Facebook telah menghapus delapan halaman dan 17 akun Facebook serta tujuh akun Instagram provokatif. Satu halaman bersama lima akun sah lainnya bahkan telah mengoordinasikan counterprotest Unite the Right 2 yang rencananya akan digelar di Washington DC pada 11-12 Agustus mendatang.

Facebook berusaha tidak mengaitkan kampanye disinformasi dengan peretas Rusia, tetapi sulit untuk tidak menuduh Rusia ada di balik itu karena taktik yang digunakan oleh mereka mirip dengan yang dilakukan oleh Internet Research Agency (IRA), perusahaan Rusia di di St. Petersburg yang menyebarkan kampanye disinformasi dan memengaruhi pemilu AS 2016. Salah satu akun yang terkait dengan IRA dapat mengakses akun yang sudah dinonaktifkan selama tujuh menit.

Polanya mirip dengan kampanye disinformasi Rusia: Moskow berusaha menimbulkan perpecahan dan ketidakpercayaan di antara dua kubu. Sehari sebelum menutupnya, Facebook melaporkan akun-akun palsu tersebut kepada Digital Forensics Research Lab (DFRL) Atlantic Council. Dalam waktu singkat, tim DFRL segera mencari akun-akun palsu tersebut, dan menerbitkan laporan temuannya tak berapa lama setelah konferensi pers Facebook.

“Jujur saja, 18 jam tidak cukup untuk menentukan akun yang terkait kampanye disinformasi,” kata Graham Brookie, Direktur dan Managing Editor di DFRL, kepadaku lewat telepon. Brookie sangat memahami masalah ini. Sebelum bergabung dengan Atlantic Council, dia bekerja di National Security Council selama empat tahun. Jauh sebelum itu, dia bahkan pernah bekerja sebagai penasihat Lisa Monaco, Penasehat Keamanan Dalam Negeri Mantan Presiden Barrack Obama.