Mungkinkah Keseringan Makan Pedas Bisa Merusak Indra Pengecapan Kita?

Saya bertanya kepada pakar tanaman cabai demi mengetahui risiko menjadi pecinta makanan pedas. Apalagi kalau kamu kayak saya, demen makan mi instan tambah lebih dari 30 cabai rawit.

Foto ilustrasi via Flickr Kah Wai Sin

Saya tidak bisa hidup tanpa makanan pedas. Sambal adalah menu wajib saya setiap hari. Nafsu makan akan berkurang kalau makanannya tidak pedas. Enggak ada saus sambal? Tinggal gantibubuk cabai. Mau makan Tom Yam atau Ramen? Lebih nendang bila rasanya pedas. Ada cabai jalapeƱo atau cabai rawit? Langsung hajar aja (meskipun mulut rasanya seperti ‘terbakar’ sesudahnya). Meskipun begitu, saya kadang suka khawatir indra pengecap akan rusak karena terlalu sering makan masakan pedas.

Saya segera mencari tahu risikonya karena takut akan berakhir seperti teman ayah yang harus makan apa pun dengan lada hitam supaya ada rasa, atau seperti kakek yang sudah tidak bisa mengecap rasa sama sekali. Kalau ternyata makanan pedas berbahaya, itu artinya saya harus menyingkirkan semua jenis sambal yang saya punya di rumah.

Selama ini, kita semua tahu kalau masakan pedas itu baik untuk kesehatan. Beragam artikel telah menjelaskan manfaat-manfaatnya. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2015 menemukan bahwa orang yang mengonsumsi masakan pedas 6-7 hari setiap minggunya menurunkan risiko kematian hingga 14 persen (salah satu artikel penelitian dari 2017 melaporkan hasil serupa). Akan tetapi, penelitian 2015 ini hanya dilakukan di Cina. Apakah hal yang sama berlaku juga bagi orang Amerika? Jika ya, seberapa pedas makanan yang bisa dikonsumsi? Apakah orang-orang dari tiap negara memang terlahir berbeda indra pengecapannya?